Selasa, 25 Oktober 2011

Nirina Zubir: Darah untuk Zee





Pesan menggetarkan muncul di Twitter dan Blackberry Messenger. Bayi presenter, Nirina Zubir, yang saja dilahairkan membutuhkan transfusi darah agar tetap bisa hidup!

Tanggal 6 Februari 2010, tepat pukul 07.30 pagi, anugrah terindah dari Tuhan yang selama ini aku nantikan, lahir dengan selamat. Aku, Nirina Zubir, dan suamiku, Ernest Fardiyan, bahagia menyambut bayi perempuan yang diberi nama Zivara Ruciragati Sharief. Namun, baru dua hari memeluknya, tanggal 9 Februari 2010, mimpi buruk yang sama sekali tidak pernah kuduga, menghampiri. Kuning pada anakku, Zee tidak kunjung hilang! Sebagai orang tua baru mendapatkan anak, aku langsung dikuasai panik.


Hamil dengan Miom. Keputusan memiliki anak sebenarnya belum kami rencanakan. Namun Tuhan murah hati. Ia memberi kami anak cepat, hanya dalam hitungan bulan sesudah menikah dan masih dalam suasana bulan madu.

Mengetahui kehamilanku, perasaan kami campur aduk, antara surprised, gembira dan khawatir karena tidak lama setelah menikah, aku didiagnosa dokter memiliki miom di mulut rahim. Menurut dokter, adanya miom membuat kandunganku berisiko.
Namun, rasa cemas tidak berlangsung lama. Aku dan Ernest tetap bersyukur atas kehamilan ini. Aku pun tetap bekerja di dunia hiburan.

Sampai suatu hari, di usia kehamilan tiga bulan, ketika syuting film Get Married 2, aku merasakan sakit yang tidak tertahankan di bokong bagian bawah. Aku sampai-sampai tidak bisa berdiri atau duduk! Ernest kaget, tetapi sigap membawaku ke rumah sakit. Dalam perjalanan, aku khawatir sekali terjadi apa-apa pada kandunganku yang masih muda. Baru setelah memeriksa denyut jantung janinku dan mengatakan ia baik-baik saja, aku bisa bernafas lega. Setelah kejadian itu, aku total berhenti bekerja dan banyak beristirahat di rumah.

Musibah di Hari Ketiga. Adanya miom di mulut rahim, membuatku harus melahirkan secara caesar. Kami sibuk memilih hari baik. Tanggal "Cantik" 10/02/2010 ditetapkan. Namun Tuhan berkata lain. Tanggal 5 Februari tengah malam, aku mengalami perdarahan hebat. Aku, yang terbiasa melihat kloset setiap buang air kecil, gemetar seketika melihat darah membanjir!

Pukul 4 pagi aku dilarikan ke rumah sakit. "Sakit sayang?" tanya Ernest terus-menerus. "Tidak," kataku, karena memang tidak merasakan apa-apa. Ernest malah protest, "Jangan ditahan-tahan lho, sakitnya". Bayiku harus dilahirkan saat itu juga. Alhamdulillah, persalinan lancar. Kurang dari 20 menit, Zee lahir selamat, berat lahir 3,4 kg dan panjang 48 cm. Selama dua hari setelah Zee lahir, hatiku diliputi kebahagiaan. Ucapan selamat mengalir dari kerabat dan sahabat.

Namun siapa sangka, di hari ketiga , Zee dinyatakan sakit. Rencana membawa pulang cucu perempuan pertama di keluargaku itu pun, buyar. Zee yang lahir dari ibu bergolongan darah O, sedangkan ia berdarah B (ayahnya AB), membuat badannya yang menguning sejak lahir, tidak kunjung normal. Kadar bilirubinnya sangat tinggi, mencapai angka 13 mg, padahal seharusnya kadar bilirubin bayi dengan berat normal hanya 10 mg, bayi prematur 12 mg.

Sampai pukul 4 sore, kadar bilirubin Zee tidak turun-turun, malah naik terus dan pesat: dari 13 mg ke 14 mg, lalu 18 mg dan pukul 6 sore 19,8 mg. Menurut dokter, di kadar bilirubin 20 mg anak dipastikan kejang-kejang. Oh, aku tidak mau itu terjadi! "Kadar bilirubinnya naik cepat. PErsiapkan diri untuk lakukan transfusi tukar," ujar dokter.
Setelah upaya pertama dengan penyinaran (phototherapy) gagal, pukul 6 sore See diputuskan untuk melakukan transfusi tukar. Aku hanya bisa pasrah.

Tidak ada darah. Kepasrahanku berubah menjadi kepanikan, tatkala setelah 2 jam menunggu transfusi, pihak rumah sakit memberitahu bahwa darah tidak tersedia dan aku harus mengupayakan sendiri. Oh, kukira darah sudah ada! Ya Tuhan, apa yang akan terjadi pada Zee? Dia kritis dan butuh darah secepatnya! Kejadian ini membuatku membuang waktu berharga 2 jam. Padahal, kadar bilirubin Zee hanya kurang 0,2 mg dari batas 20 mg yang dianggap berbahaya.

Menguatkan hati, aku dan Ernest berusaha dari nol lagi, mencari sumbangan darah dari teman-teman lewat jejaring sosial Facebook, Twitter, Blackberry Messenger dan broadcast message. Lewat akun Twitter Ernest, @ernestcokelat, dia berpesan: "Saya butuh darah O yg sudah siap ditransfusi tanpa harus donor, kalau ada yang punya info bank darah atau PMI plis DM me".

Sementara aku mengirim pesan BBM berbunyi: "Teman2, anak kami membutuhkan darah golongan O dengan titer rendah yang sudah diproses di bank darah dan siap untuk ditransfusi karena jika donor langsung perlu diproses selama 12 ham dan kami gak punya waktu itu, kita butuh ASAP, kalo ada yang punya infonya plis ping me and ernest ya. TQ".
Detik demi detik berlalu. Tidak disangka, ratusan tanggapan datang memberi bantuan. Bahkan ada penolong yang datang dari Yogya dan Bandung, demi menyumbang darah buat bayiku. Oh, betapa terharunya aku. Terima kasih teman-teman!

Setelah 3 jam menunggu, pukul 11 malam, kami berhasil mengumpulkan dua kantung darah O dengan anti B rendah yang dibutuhkan Zee. Proses transfusi tukar berlangsung 2 jam, dari pukul 2 hingga 4 pagi. Prosesnya, darah dikeluarkan dari tubuh Zee secara bertahap pula. Secara bertahap kondisi Zee membaik, kondisi kritisnya pun terlewati. Sujud syukur kami kepada yang Maha Kuasa.